John Herdman Terpukau Keramahan Warga Indonesia

09 Oktober 2026 13:28
Penulis: Beno Junianto, bola
John Herdman (INSTAGRAM)

Sahabat.com - Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat Indonesia yang ditemuinya secara langsung di berbagai daerah. Namun, di balik kesan positif tersebut, ia justru merasa terkejut melihat maraknya hujatan dan perundungan (bullying) terhadap pemain sepak bola di media sosial.

Pengalaman Herdman berinteraksi dengan masyarakat, termasuk saat mengunjungi desa-desa di Lombok, memberikan kesan tersendiri baginya. Ia melihat langsung bagaimana warga menyambut orang lain dengan ramah dan baik dalam kehidupan sehari-hari.

Kesan tersebut berbanding terbalik dengan perilaku sebagian pengguna media sosial yang melontarkan komentar kasar kepada pemain, terutama ketika Timnas Indonesia mendapatkan hasil pertandingan yang tidak sesuai harapan.

Menurut materi pemberitaan yang beredar, Herdman merasa heran melihat perbedaan antara keramahan masyarakat yang ia rasakan di dunia nyata dan kerasnya komentar yang muncul di ruang digital.

Terkesan dengan Keramahan Warga di Daerah

Keramahan masyarakat menjadi salah satu pengalaman positif yang dirasakan Herdman selama berada di Indonesia. Interaksinya dengan warga di berbagai daerah, termasuk kawasan pedesaan di Lombok, memperlihatkan kepadanya sisi hangat kehidupan masyarakat Indonesia.

Sikap terbuka dan kebaikan warga yang ditemuinya memberikan gambaran positif tentang kehidupan sosial masyarakat di luar hiruk-pikuk sepak bola profesional.

Pengalaman tersebut sekaligus menjadi kontras ketika Herdman melihat percakapan di media sosial yang kerap dipenuhi hujatan terhadap pemain. Padahal, menurut sudut pandang yang disampaikan dalam pemberitaan tersebut, perilaku di ruang digital seharusnya tidak menghilangkan nilai kesopanan dan rasa hormat yang dijunjung dalam kehidupan sehari-hari.

Kritik Pemain Wajar, Perundungan Bukan Solusi

Dalam sepak bola, kritik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kompetisi. Pemain dan pelatih tentu perlu menerima evaluasi ketika penampilan mereka tidak memenuhi harapan. Kritik juga dapat menjadi masukan untuk memperbaiki kualitas permainan dan hasil pertandingan.

Namun, kritik yang sehat seharusnya berfokus pada aspek teknis, seperti kesalahan umpan, penyelesaian akhir, strategi, atau keputusan selama pertandingan. Kritik berbeda dengan perundungan yang menyerang fisik, keluarga, kehidupan pribadi, atau merendahkan seseorang secara berulang.

Pemain sepak bola juga manusia yang memiliki perasaan dan kehidupan di luar lapangan. Kekalahan atau penampilan buruk tidak seharusnya menjadi pembenaran untuk melontarkan hinaan maupun menyebarkan komentar yang merendahkan martabat seseorang.

Maraknya perundungan digital juga menjadi pengingat bahwa kebebasan berpendapat perlu disertai tanggung jawab. Setiap pengguna media sosial memiliki peran dalam membentuk ruang percakapan yang lebih sehat, termasuk ketika menyampaikan kekecewaan terhadap tim kesayangan.

Suporter Bisa Kritis Tanpa Merendahkan

Timnas Indonesia memiliki basis suporter yang besar dan antusiasme publik yang tinggi. Dukungan tersebut merupakan bagian penting dalam perjalanan sepak bola nasional. Namun, semangat mendukung tim juga dapat diwujudkan melalui kritik yang objektif dan tidak menyerang pribadi pemain.

Suporter dapat menyampaikan evaluasi terhadap performa, mendiskusikan strategi, atau mengungkapkan kekecewaan atas hasil pertandingan tanpa melakukan perundungan.

Pesan yang dapat dipetik dari pengalaman Herdman adalah pentingnya menjaga keselarasan antara keramahan dalam kehidupan sehari-hari dan perilaku di media sosial. Sikap saling menghormati seharusnya tetap berlaku, baik ketika bertemu langsung maupun ketika berinteraksi melalui layar ponsel.

Pada akhirnya, sepak bola memang menghadirkan emosi, kebanggaan, dan kekecewaan. Namun, dukungan terhadap Timnas Indonesia tidak harus diwujudkan dengan menjatuhkan pemain yang sedang mengalami kesulitan.

0 Komentar

Berita Terkait

Leave a comment